Home

Preamble Suatu Pengantar Kritis




Kewirausahaan diyakini banyak orang  sebagai salah satu metode yang bisa mengubah cara orang hidup. Sebuah metode yang dapat mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat. Oleh karena kewirausahaan menjadi topik pikiran dalam setiap percakapan yang terkait dengan pendidikan atau isu-isu ekonomi. Terlebih lebih bila dikaitkan dengan  issue kemakmuran sebuah negara. Terdapat salah satu pendapat yang menyatakan bila kemakmuran suatu negara salah satunya ditentukan oleh jumlah wirausaha pada negara tersebut, semakin banyak jumlah wirausaha yang ada, semakin makmur negara tersebut. Indonesia sendiri saat ini jumlah entrepreneurnya baru mencapai 0,24% dari jumlah penduduk. Ini tentu saja masih jauh dari minimal jumlah entrepreneur yang seharusnya, yaitu  2% dari jumlah total penduduk.

Salah satu pokok persoalan yang selama ini kita hadapi sebagai bangsa adalah bagaimana meningkatkan kemakmuran rakyat. Tentu solusinya bukan sekedar menyiapkan fundamental makro ekonomi yang kuat, iklim investasi yang kondusif, melainkan juga perlu adanya program yang dapat mendorong banyak entrepreneur di sektor riil dan nonformal.

Kita memerlukan para entrepreneur agar ekonomi bisa bergerak, lapangan pekerjaan semakin terbuka, dan tentu saja dampaknya mengurangi pengangguran dan mengurangi kemiskinan. Namun demikian, sebagai negara muslim terbesar di dunia, justru perkembangan Islamic entrepreneurial spirit di Indonesia saat ini terasa jalan di tempat.

Secara umum diketahui apabila pengembangan ekonomi lebih didorong dari pengembangan sektor produksi barang dan jasa. Makin berkembang sektor produksi maka makin baiklah keadaan suatu negara. Pengembangan sektor produksi akan menambah lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan penduduk. Namun demikian, untuk mengembangkan produksi diperlukan 3 unsur, yaitu:

(i)                 semangat wirausaha,

(ii)               kemampuan teknologi, dan

(iii)             adanya pembiayaan.

Semangat wirausaha ditentukan juga oleh semangat warganegara dalam mengejar kebahagiaan melalui materi. Selain itu semangat ini juga didorong oleh aturan pemerintah yang kondusif, yang memberikan insentif sehingga orang terdorong untuk membuat usaha usaha baru.

Kemampuan teknologi ditentukan oleh pendidikan. Hanya melalui pendidikan yang baiklah keunggulan teknologi dapat dicapai. Pengembangan teknologi tak pernah berhenti. Orang orang selalu berlomba untuk membuat teknologi tercanggih. Teknologi inilah membuat nilai tambah yang besar bagi suatu bahan mentah. Tak heran - Jepang sebagai negara yang miskin sumber daya alam - melalui keunggulan teknologi mampu memperoleh nilai tambah besar dibandingkan negara yang hanya menjual barang mentah. Sehingga dapat disimpulkan bila pengembangan model model pengembangan Islamic Entreprenurial spirit memang harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Namun pengembangan model baru jelas tidak boleh meninggalkan basis dasar Tawhid, fiqh dan tujuan syari'at untuk mashlaha.  Sehingga pengembangan Islamic entreprenurual spirit ini bertujuan untuk :

1.      tidak ngakali mekanisme syari'ah untuk legitimasi praktik riba

2.      tidakngakali ulama untuk legitimasi kepentingan segelintir orang

3.      tidakngakali akademisi untuk legitimasi para komprador

4.      tidakngakali masyarakat dengan "bedak dan tampang" syari'ah

5.      serta tidak melakukan fotokopi kapitalisme dan mencocok-cocokkan dengan syari'ah

 

Tetapi membangun Islamic entrepreneurial spirit adalah suatu proses dimana yang dilakukan adalah:

1.      menggali nilai-nilai Islam untuk kemashlahatan umat dan masyarakat banyak

2.      melihat dan memaknai realitas praktik yang benar-benar bernilai syari'ah di lapangan

3.      melakukan penelitian secara rigid dari nilai-nilai Tawhid untuk mengembangkan bentuk ekonomi Islam yang benar-benar "ISLAM"

4.      melakukan uji hasil penelitian dan hasil maknaan "empiris" untuk menemukan model-model yang benar-benar "ISLAM"

5.      penyadaran nilai-nilai ekonomi Islam lewat pendidikan dasar sampai tinggi

Dengan latar belakang pemikiran tersebut dan keinginan untuk mengembangkan perguruan tinggi agar lebih bedaya saing pada era global terlebih UIN Sunan Ampel sebagai salah satu perguruan tinggi agama Islam yang “senior” di Jawa Timur dan bagian timur Indonesia juga harus berubah dan mengikuti pasar. Dengan semangat untuk menjadi premier Islamic Entreprenurial University di Indonesia, maka dengan ini dibentuklah Lembaga Pengembangan Kewirausahaan dan Bisnis Islamatau Islamic Entreprenurial and Business development center.







Subpages (1): LPKBI on Media
Comments